OSEANOGRAFI FISIKA DASAR

Diskusi bidang kebumian

Moderator: PokiScolithos

Post Reply
User avatar
PokiScolithos
Moderator Kebumian
Moderator Kebumian
Posts: 4
Joined: Thu Oct 04, 2018 6:35 pm
Bidang OSN: Kebumian SMA
Tahun OSN: 2017

Sun Oct 21, 2018 10:59 pm

4. GERAKAN AIR LAUT
4.1. PENGANTAR
Air laut bersifat dinamis, selalu bergerak. Sifat dinamis air laut tersebut terutama disebabkan oleh interaksi antara samudera dengan atmosfer, pengaruh gerak rotasi Bumi, pengaruh gaya gravitasi Bulan dan Matahari. Pada dasarnya gerakan air laut terjadi dalam bentuk: (1) gelombang, (2) pasang surut, dan (3) arus. Gelombang adalah gerakan air laut yang sangat menonjol dan menarik perhatian bila seseorang berdiri di tepi pantai. Di alam, fenomena gelombang muncul bila ada dua massa yang berbeda densitasnya berada pada posisi yang berdampingan dan berinteraksi, dimana yang satu bergerak terhadap yang lain. Oleh karena itu, fenomena gelombang tidak hanya terjadi di permukaan laut saja – interaksi antara udara dan air laut, tetapi juga terjadi di permukaan tanah – interaksi antara udara dengan pasir seperti di daerah gurun, atau di permukaan dasar laut atau pantai – interaksi antara dasar laut dengan air laut. Di permukaan laut, fenomena gelombang dapat terlihat sebagai gerakan air laut yang bergelora atau air laut yang menghempas ke pantai.
Pasang surut adalah gerakan air laut naik dan turun karena pengaruh gaya gravitasi dari Bulan dan Matahari. Air laut naik terjadi pada sisi Bumi yang menghadap ke arah Bulan dan sisi sebaliknya. Fenomena gerakan pasang surut baru dapat terlihat bila kita mengamati ketinggian muka laut di pantai selama antara 12 sampai 24 jam. Secara visual, gejala pasang naik terlihat dari bertambah dalamnya genangan dan bergesernya genangan oleh air laut ke arah daratan, sedang gejala surut terlihat dari berkurangnya kedalaman air dan bergesernya ke arah laut.
Arus laut adalah fenomena berpindahnya massa air laut dari satu tempat ke tempat lain, yang terjadi antara lain terutama karena interaksi antara lautan dengan udara di atasnya maupun karena pengaruh gerak rotasi Bumi. Fenomena ini dapat terjadi dalam skala kecil di perairan pantai atau selat-selat, maupun skala besar seperi arus-arus yang terjadi di samudera-samudera yang membentuk pola sirkulasi massa air global.
4.2. GELOMBANG
4.2.1. Teori Gelombang
4.2.1.1. Beberapa definisi gelombang
Gelombang bergerak secara periodik, yaitu bergerak berulang-ulang pada suatu periode waktu tertentu. Sifat-sifat gelombang dapat diterangkan dengan bentuk gelombang sederhana untuk menggambarkan panjang gelombang, tinggi gelombang, dan periode gelombang (Gambar 1).


Gambar 1. Gambar gelombang yang disederhanakan yang menunjukkan berbagai parameter gelombang dan gerakan partikel air di dalam suatu bentuk gelombang. Lingkaran menunjukkan gerakan partikel air yang diperbesar. Dikutip dari Ross (1977) dengan modifikasi.



Perioda gelombang (T) adalah waktu yang dibutuhkan oleh puncak (atau lembah) gelombang yang berurutan untuk melalui titik tetap tertentu. Panjang gelombang (L) adalah jaral horizontal di antara dua puncak (atau lembah) gelombang yang berurutan. Tinggi gelombang (H) adalah jarak vertikal dari dasar lembah sampai puncak gelombang. Kedalaman air (d) adalah jarak vrtikal antara nuka laut rata-rata sampai dasar laut.
4.2.1.2. Perambatan gelombang
Kecepatan merambat gelombang (C) adalah:





Bila gelombang merambat di perairan dangkal, maka faktor kedalaman air adalah parameter penting yang mempengaruhi gerakan gelombang.

Berdasarkan kedalaman relatif, yaitu perbandingan antara kedalaman air d dan panjang gelombang L, perairan dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelas (Triatmodjo, 1999), yaitu:
1) Perairan dalam (deep water), bila d/L >1/2.
2) Perairan kedalaman menengah (intermediate water), bila 1/2>d/L>1/20.
3) Perairan dangkal (shallow water), bila d/L<1/20.

Di perairan dalam, yaitu bila rasio d/L > 1/2:






Bila kita bekerja dengan unit SI, maka kita bisa menukan g = 9,81 m/dt2 dan p = 3,14, sehingga:




Dari persamaan tersebut terlihat bahwa panjang gelombang di perairan dalam hanya ditentukan oleh perioda gelombang. Dengan kata lain, di perairan dalam panjang gelombang dapat diketahui hanya dengan mengukur perioda gelombang.

Selanjutnya, bila persamaan (1) dan persamaan (4) dikombinasikan, maka kita dapat dengan mudah mendapatkan kecepatan gelombang:





Persamaan (6) ini memperlihatkan bahwa di laut dalam, gelombang dengan perioda yang panjang merambat lebih cepat dari pada gelombang dengan perioda yang pendek.


Untuk perairan dangkal, dimana d/L <1/20:




Karena C=L/T, maka:




Dari persamaan (9) terlihat bahwa, di lingkungan perairan dangkal, bila perairan makin dangkal, maka kecepatan gelombang makin rendah. Demikian pula sebaliknya, bila perairan makin dalam maka kecepatan gelombang di perairan dangkal makin besar.

4.2.1.3. Energi dan kekuatan gelombang
Bila kita perhatikan gerakan gabus yang mengapung di laut ketika gelombang melintas, kita akan melihat bahwa gabus itu bergerak naik turun dan sementara itu juga bergerak maju dan mundur. Gerakan gabus tersebut sesungguhnya memperlihatkan gerakan melingkar (lihat Gambar 1) dengan diameter sama dengan tinggi gelombang H dan dengan periode T. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa gelombang sesungguhnya adalah rambatan energi dan momentum melalui permukaan air. Air laut itu sendiri tidak bergerak atau berpindah mengikuti rambatan gelombang.
Ketika gelombang merambat, permukaan air laut naik. Hal itu menunjukkan air memberi energi potensial kepada gelombang. Pada waktu yang sama, gerakan air laut yang melingkar (orbital motion) ketika gelombang lewat, memberikan energi kinetik. Dengan demikian, energi gelombang adalah energi total yang merupakan gabungan energi potensial (Ep) dan energi kinetik (Ek). Sehingga:






dimana:
E = energi gelombang g = percepatan gravitasi
ρ = densitas air laut H = tinggi gelombang

Dari persamaan (10) terlihat bahwa energi gelombang sangat ditentukan oleh tinggi gelombang.

Kekuatan gelombang (wave power) atau “energy flux” adalah banyaknya energi gelombang yang disalurkan pada arah rambatan gelombang. dan dinyatakan dengan persamaan:




dimana:
P = kekuatan gelombang atau wave power. C = kecepatan gelombang
E = energi gelombang n = angka gelombang



Untuk laut dalam, n = ½, dan untuk perairan dangkal, n = 1.

Untuk perairan dangkal, bila persamaan (11) dan (9) dikombinasikan maka akan diperoleh:




Persamaan ini memperlihatkan bahwa di perairan dangkal, makin bila kedalaman air bertambah maka kekuatan gelombang akan bertambah pula.

Untuk perairan dalam, bila persamaan (11) dan (6) dikombinasikan, maka akan tampak bahwa gelombang yang memiliki perioda yang panjang lebih kuat daripada gelombang yang memiliki perioda pendek.
4.2.1.4. Perambatan gelombang laut dalam
Gelombang di laut dalam hadir dalam bentuk kelompok gelombang dan terjadi karena tiupan angin.
Kecepatan merambat kelompok gelombang di laut dalam, dimana energi gelombang dan kelompok gelombang secara keseluruhan merambat adalah:





dimana:
Cg = kecepatan kelompok gelombang g = percepatan gravitasi
C = kecepatan individu gelombang T = periode gelombang

Dari persamaan tersebut terlihat bahwa kecepatan gelombang merambat tergantung pada periode, dimana gelombang dengan periode yang lebih panjang akan merambat lebih cepat dari pada gelombang dengan periode yang lebih pendek.

Bila gelombang dengan periode T tercetus di suatu tempat yang berjarak R dari suatu tempat, misalnya A (Gambar 2), maka waktu tob pertama kali gelombang sampai di titik A adalah:







Gambar 2. Kelompok gelombang bergerak dari daerah sumber menuju ke lokasi pengamatan di titik A. Dikutip dari Komar (1976) dengan modifikasi.


Selanjutnya, tob adalah waktu gelombang dengan perioda T pertama sampai, dan lama tiupan angin D, maka gelombang yang terakhir sampai di titik A adalah tob + D. Untuk “fetch” yang panjang, ada error yang perlu dikoreksi.

Bila gelombang melintasi samudera, setelah meninggalkan daerah pembentukannya, maka ia akan kehilangan energi selama dalam perjalanan. Hal itu dapat terjadi karena:
1) Peredaman internal oleh viskositas air,
2) Penyebaran gelombang ke arah yang lain karena variasi arah tiupan angin,
3) Angin yang bertiup berlawanan arah dengan arah rambatan gelombang, dan
4) Interaksi dengan gelombang-gelombang lain, baik dengan gelombang yang terjadi oleh tiupan angin yang sama, maupun dengan gelombang yang terjadi oleh tiupan angin yang lain.

4.2.2. Gelombang Pecah
Bila gelombang dari laut dalam menuju ke pantai, maka ketika gelombang itu memasuki perairan dangkal, akan terjadi perubahan bentuk. Perubahan bentuk itu mulai terjadi ketika kedalaman air sama dengan ½ panjang gelombang, dan mulai berubah secara tegas ketika kedalaman air ¼ panjang gelombang (batas air dalam menurut teori gelombang Airy). Perubahan bentuk yang terjadi pada gelombang itu adalah kecepatan dan panjang gelombang berkurang, tinggi gelombang bertambah, sedang periode gelombang tetap. Di bagian perairan yang tidak jauh di belakang zona tempat gelombang pecah (breaker zone), puncak-puncak gelombang menjadi bertambah runcing dan dipisahkan oleh lembah yang relatif datar (Gambar 3). Akhirnya, gelombang pecah setelah menjadi sangat curam dan tak stabil. Gelombang menjadi tidak stabil karena kecepatan gerakan partikel-partikel air di puncak gelombang melebihi kecepatan fase gelombang.



Gambar 3. Gambaran transformasi gelombang dari perairan dalam ketika mendekati pantai. Dikutip dari Komar (1976) dengan modifikasi..



Gambar 4. Macam-macam gelombang pecah di pantai. Gambar sebelah kiri adalah tiga tipe gelombang pecah yang mudah di kenal. Gambar sebelah kanan diperoleh dari rekaman film, dan menunjukkan adanya satu jenis pecahan transisi, jenis Collapsing, antara Plunging dan Surging. Tanda panah menunjukkan titik awal pecahnya gelombang. Dari Komar (1976).

Dikenal ada empat tipe gelombang pecah (Gambar 4), yaitu:
1) Spilling breaker. Pecahan gelombang jenis ini terjadi bila gelombang menjalar di pantai dengan dasar yang landai. Pada pecahan jenis ini, puncak gelombang yang tidak stabil turun sebagai “white water” (gelembung-gelembung dan buih).
2) Plunging breaker. Pecahan jenis ini terjadi bila gelombang menjalar di pentai yang miring. Pada pecahan jenis ini, gelombang yang mendekat ke pantai memiliki lereng depan yang menghadap ke daratan menjadi vertikal, puncak gelombang kemudian menggulung ke depan, dan akhirnya menghunjam ke depan.
3) Surging breaker. Pecahan jenis ini terjadi bila lereng pantai sangat curam. Pada pecahan jenis ini, puncak gelombang naik seperti akan menghunjam ke depan, tetapi kemudian dasar gelombang naik ke atas permukaan pantai sehingga gelombang jatuh dan menghilang.
4) Collapsing breaker. Pecahan ini adalah bentuk menengah antara pecahan tipe plunging dan surging.

Tipe gelombang pecah di atas, dari urutan satu sampai tiga adalah tiga macam gelombang pecah yang umum mudah dikenal. Adapun tipe gelombang yang ke-empat, adalah tipe gelombang pecah transisi antara plunging breaker dan surging breaker. Tipe ini ditemukan oleh Galvin tahun 1968 yang mempelajari gelombang mempergunakan film berkecepatan tinggi (Komar, 1976).

4.2.3. Refraksi Gelombang
Ketika gelombang air dalam memasuki perairan dangkal, gelombang itu mengalami refraksi (refraction, Gambar 5), yang menyebabkan arah rambatan gelombang berubah sesuai dengan berkurangnya kedalaman air. Keterkaitan antara perubahan arah dengan perubahan kedalaman dapat kita lihat pada hubungan antara kedalaman air dan kecepatan gelombang seperti terliat pada persamaan (9). Karena sifat tersebut, maka ketika memasuki perairan dangkal gelombang akan membelok ke bagian perairan yang lebih dangkal. Perubahan arah gelombang itu terjadi sedemikian rupa sehingga puncak gelombang cenderung sejajar dengan garis kontur kedalaman.
Topografi dasar laut yang tidak teratur dapat menyebabkan gelombang mengalami refraksi yang sangat rumit dan menghasilkan variasi tinggi gelombang dan energi di sepanjang pantai. Gelombang akan mengalami refraksi dan divergensi di atas perairan yang dalam di atas palung-palung pantai (Gambar 5, atas) sehingga di bagian pantai yang berhadapan dengan palung akan terjadi pengurangan tinggi gelombang. Sementara itu, di pantai yang terletak di kedua sisinya terjadi konvergenasi dan gelombang menjadi lebih tinggi.
Bila gelombang mendekati suatu tanjung (headland), maka gelombang akan mengalami refraksi dan konvergensi atau dibelokkan ke arah tanjung tersebut, sehingga energi gelombang terkonsentrasi ke arah tanjung atau headland itu (Gambar 5, bawah).



Gambar 5. Pola divergen (atas) dan konvergen (bawah) pada gejala refraksi gelombang di daerah palung dan tanjung. Dari Komar (1976).



4.2.4. Difraksi Gelombang
Gejala difraksi gelombang terjadi apabila gelombang melewati suatu penghalang, seperti pulau, tanjung atau bangunan teknik di pantai. Apabila gelombang datang terhalang oleh suatu rintangan, maka gelombang akan membelok di sekitar ujung rintangan dan masuk ke daerah terlindung (daerah bayangan atau shadow zone) di belakang rintangan. Dalam difraksi terjadi transfer energi yang sejajar dengan puncak gelombang atau tegak lurus dengan arah penjalaran gelombang (Gambar 6). Transfer energi itu menyebabkan terjadinya gelombang di daerah bayangan meskipun tidak sebesar gelombang di luar daerah bayangan.


Gambar 6. Difraksi gelombang di daerah bayangan suatu penghalang gelombang di lepas pantai. Dari Komar (1976).

4.2.5. Jenis-jenis Gelombang Menurut Penyebabnya
Gelombang dapat terjadi karena berbagai sebab alamiah. Berdasarkan faktor yang menyebabkan timbulnya gelombang dan karakter gelombang yang terjadi, gelombang dapat dibedakan menjadi beberapa macam. Berikut ini akan diuraikan secara singkat mengenai macam-macam gelombang tersebut.
4.2.5.1. Gelombang karena tiupan angin (wind-generated wave).
Gelombang ini terjadi di permukaan laut karena angin yang bertiup di atas permukaan laut. Bila angin bertiup melintasi permukaan laut, maka akan terjadi transfer energi dari angin ke laut, dan di bidang antar-mukanya (interface, permukaan laut) terjadi gelombang. Ada hubungan antara kecepatan angin dengan energi gelombang, panjang gelombang, tinggi gelombang, dan periode gelombang. Di perairan dalam faktor lain yang berpengaruh terhadap gelombang adalah konstansi tiupan angin (wind constancy) dan lama tiupan angin (wind duration). Tabel 4.1 memperlihatkan hubungan antara kecepatan angin dan panjang fetch dengan berbagai parameter gelombang.
Dari tabel tersebut terlihat bahwa angin dengan kecepatan tertentu dapat menghasilkan gelombang dengan ketinggian dan periode yang lebih tinggi bila fetch diperpanjang. Selanjutnya, bila bila angin yang bertiup di atas permukaan laut tidak memenuhi waktu minimum, maka ketinggian dan periode gelombang optimum tidak akan tercapai.


Tabel 4.1. Waktu minimum dan kondisi yang diperlukan untuk menghasilkan karakteristik yang optimum gelombang. Dikutip dari Swan, (1983)
Panjang fetch (km) 8 80 800
Kecepatan angin 25 km/jam
Tinggi gelombang (m) 0,5 1,0 1,4
Periode (dt) 2,7 4,0 5,0
Durasi (jam) 2,2 14,2 103,0
Kecepatan angin 50 km/jam
Tinggi gelombang (m) 1,1 2,6 4,9
Periode (dt) 4,0 6,4 9,0
Durasi (jam) 1,6 9,2 61,0
Kecepatan angin 100 km/jam
Tinggi gelombang (m) 2,4 6,1 13,7
Periode (dt) 5,8 9,7 15,0
Durasi (jam) 1,1 6,3 44,0
(Generalisasi nilai-nilai dari kurva peramalan gelombang laut dalam yang dikembangkan oleh Bretschneider dari U.S. Coastal Engineering Research Center)



Gambar 6A. Gelombang samudera karena tiupan angin badai. Pada dasarnya badai bertiup melingkar, dan gelombang sesungguhnya bergerak menjauhi pusat lingkaran angin ke segala arah. Gamar di atas hanya menggambarkan pembentukan gelombang pada satu arah. Garis putus-putus adalah batas relatif dari sistem angin. Dikutip dari Ingmanson dan Wallace (1985) dengan modifikasi.

Gambaran mekanisme terjadinya gelombang karena tiupan angin diberikan oleh Ingmanson dan Wallace (1985) berikut (Gambar 6A). Bayangkan suatu permukaan laut yang licin tanpa angin dan tanpa gelombang sama sekali. Selanjutnya bayangkan angin secara bertahap bertiup menggerakkan permukaan air. Angin yang bertiup (breeze) dengan kecepatan 0,5 knot dapat menimbulkan riak (ripples, rippel) dipermukaan laut. Rippel terbentuk sebagai respon permukaan laut atas variasi tekanan angin yang bergerak dipermukaan laut dan respon atas gaya gesekan yang timbul dari angin terhadap permukaan laut. Rippel menyebabkan makin banyak bagian permukaan laut yang terbuka terhadap tiupan angin, dan kemudian gesekan dan tekanan secara bertahap meningkatkan ukuran rippel menjadi gelombang kecil. Permukan laut menjadi berombak (choppy) dengan gelombang bergerak secara garis besar dalam arah yang sesuai dengan tiupan angin. Bila kecepatan angin meningkat, maka tinggi gelombang rata-ratapun juga meningkat. Selanjutnya, lamanya angin bertiup serta panjang lintasan angin (fetch) mempengaruhi ukuran gelombang. Kemudian, bila tiupan angin berhenti atau gelombang keluar dari sistem tiupan angin (storm system), maka gelombang berubah menjadi alun (swell). Alun terus bergerak, dan bila mencapai pantai akan mengalami perubahan dan menjadi gelombang pecah seperti yang telah diuraikan sebelumnya di depan.
4.2.5.2. Gelombang internal (internal wave).
Gelombang ini terjadi di dalam laut, terjadi di antara dua massa air laut yang berbeda densitasnya. Kehadiran gelombang ini tidak terlihat langsung secara visual di permukaan laut. Kehadirannya dapat diketahui dari pengamatan secara sistimatis terhadap berbagai parameter air laut – seperti temperatur, salinitas dan densitas; atau gerakan perlahan dari “slick” di permukaan laut. Slick tersebut dapat tersusun oleh plankton, sedimen berbutir halus, atau air permukaan laut yang tercemar.
4.2.5.3. Gelombang Badai (storm surge atau storm wave)
Gelombang ini terjadi karena tiupan angin badai. Fenomena gelombang ini umum terjadi di daerah Subtropis dimana badai sering terjadi. Di daerah pesisir, gelombang ini dapat menyebabkan air laut naik ke daratan, dan menimbulkan kerusakan.
4.2.5.4. Seiche.
Femomena seiche adalah fenomena gelombang stasioner, yaitu gelombang yang tidak memperlihatkan gerakan maju dari bentuk gelombang yang terjadi. Pada gelombang jenis ini, di tempat-tempat tertentu, permukaan air akan tetap stasioner sementara permukaan air yang lainnya bergerak naik turun (Gambar 7). Gelombang ini umumnya terjadi di perairan tertutup, seperti danau; atau perairan semi tertutup, seperti teluk. Di danau, seiche terjadi karena tiupan angin badai, atau perubahan tekanan udara (atmosfir) yang cepat. Di daerah teluk, seiche dapat terjadi karena pasang surut atau tsunami.
Di danau, periode dominan dari gelombang seiche dapat dihitung sebagai lebar danau dengan jarak L. Bila kita memandang tinggi air maksimum sebagai puncak gelombang seiche, maka gelombang harus berjalan sejauh 2L sebelum puncak berikutnya terlihat. Selanjutnya, karena sebagian besar danau lebih dimensi lebarnya lebih besar daripada dalamnya, maka seiche merupakan gelombang perairan dangkal yang merambat dengan kecepatan √(gH). Dengan demikian periode gelombang seiche adalah:




Rumus tersebut dikenal sebagai Formula Merian (Beer, 1997).




Gambar 7. Dua macam pola fenomena seiche. Dari Ingmanson dan Wallace (1973).

4.2.5.5. Gelombang karena longsoran (landslide surge atau landslide wave)
Gelombang jenis ini terjadi karena batuan atau es yang dalam jumlah besar longsor dan masuk ke laut.
4.2.5.6. Tsunami atau seismic wave
Tsunami sering disebut gelombang pasang (tidal wave), tetapi sesungguhnya gelombang ini tidak ada hubungannya dengan pasang surut air laut. Tsunami disebut juga sebagai seismic wave karena kejadiannya dicetuskan oleh gerakan kerak bumi yang cepat dan tiba-tiba. Tsunami dapat terjadi karena: (1) gempa bumi yang berasosiasi dengan terjadinya patahan vertikal di dasar laut, atau (2) longsoran di dasar laut (Gambar 8), atau (3) letusan gunungapi di laut. Tsunami adalah gelombang yang sangat panjang. Panjangnya dapat mencapai 240 km, dan dapat merambat dengan kecepatan 760 km/jam. Di daerah pesisir, gelombang tsunami yang naik ke darat dapat mencapai ketinggian 30 meter dan masuk ke darat sampai 3,5 km. Indonesia sangat berpotensi terkena bencana tsunami (Tabel 4.2). Kejadian tsunami yang terkenal di Indonesia terjadi tahun 1883, yaitu tsunami yang terjadi karena letusan Gunung Krakatau. Sementara itu, tsunami yang terjadi karena gempa antara lain terjadi di Flores tahun 1992, Banyuwangi 1994, Biak 1996, dan Aceh 2004. Contoh dari tsunami yang terjadi karena longsoran bawah laut adalah tsunami yang terjadi pada tahun 1988 di sebelah utara Papua New Guinea (Synolakis dan Okal, 2002).
Tsunami adalah gelombang yang memiliki panjang gelombang yang sangat panjang, dapat mencapai 240 km. Dengan panjang gelombangnya yang sedemikian besar itu, maka meskipun di samudera yang memiliki kedalaman rata-rata 4600 m, gelombang tsunami relatif masih sangat panjang. Dengan demikian maka gelombang tsunami akan berkelakuan seperti gelombang perairan dangkal (Ingmanson dan Wallace, 1985), yang kecepatannya tergantung pada kedalaman air seperti ditunjukkan oleh persamaan (9).
Beberapa tsunami terdiri dari satu paket yang terdiri dari tiga atau empat gelombang dengan interval kedatangan setiap gelombang sekitar 15 menit (Ingmanson dan Wallace, 1985). Gelombang yang pertama belum tentu yang paling besar. Sebelum gelombang tsunami mencapai pantai, biasanya air laut di dekat pantai tertarik ke laut sehingga dasar laut tersingkap ke udara.




Gambar 8. Gambaran dua pencetus tsunami. (a) patahan bawah laut, (b) longsoran bawah laut. Dari Ingmanson dan Wallace (1985).


Tabel 4.2. Kejadian tsunami di Indonesia dalam periode 1990 – 2006.
No. Lokasi Tahun Kawasan
1. Alor, Nusa Tenggara 1991 Timur
2. Flores, Nusa Tenggara 1992 Timur
3. Banyuwangi, Jawa Timur 1994 Barat
4. Biak, Papua 1996 Timur
5. Obi, Makulu 1998 Timur
6. Banggai, Maluku 2000 Timur
7. Manokwari, Papua 2002 Timur
8. Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam 2004 Barat
9. Buru, Maluku 2006 Timur
10 Pangandaran, Jawa Tengah 2006 Barat
Sumber: Diolah dari Fauzi dan Ibrahim (2002), Gambar 1; Setyawan (2002). Nomor urut 8 - 10 dari penulis.



Gambar 8A. Penyebaran peristiwa tsunami di Indonesia periode 1990-2006. Data dari Tabel 4.2.



4.2.6. Tipe-tipe Gelombang Menurut Periodenya
Gelombang di permukaan laut dapat juga diklasifikasikan secara memuaskan berdasarkan pada periode gelombangnya (Beer, 1997) seperti diperlihatkan pada Tabel 4.3.

Tabel 4.3. Tipe-tipe gelombang permukaan. Dikutip dari Beer (1997) dengan modifikasi
Periode (T) Tipe Gelombang Kenampakan Umum sebagai
<1 detik Capillary waves Ripples, Riak
 1 detik Wind waves (chop) Gelombang
 10 detik Swell Breakers, Alun
Menit Seiches Gelombang pelabuhan
Jam Pasang surut Pasang surut

Angin adalah pembangkit utama gelombang maupun alun. Wind waves atau chop atau gelombang memiliki panjang gelombang yang pendek, melonjak-lonjak (bumpy), puncak-puncak gelombang tajam, dan tampak pada kondisi berangin. Swell atau alun adalah gelombang yang bergerak lambat, bergerak dengan tenang (gently rolling waves) dan menghempas ke pantai meskipun pada kondisi laut yang tenang. Alun dihasilkan oleh badai yang terjadi sangat jauh dari daerah pengamatan gelombang. Sebaga contoh, alun di pantai California adalah hasil dari badai di sekitar Selandia Baru. Di pihak lain, wind waves atau chop terjadi karena tiupan angin yang keras yang dihasilkan oleh angin lokal. Sementara itu, capillary waves atau ripple atau riak terbentuk pada gelombang besar, meskipun saat itu tidak ada angin, dan tampak sangat bila ada angin.

4.3. PASANG SURUT
4.3.1. Penyebab Pasang Surut
Pasang surut adalah gerak fluktuasi muka air laut karena pengaruh gaya gravitasi Matahari dan Bulan. Jarak yang lebih dekat antara Bulan dan Bumi dibandingkan dengan jarak Matahari dan Bumi, menyebabkan gaya gravitasi Bulan berpengaruh lebih besar terhadap pasang surut dibandingkan gaya gravitasi Matahari. Besarnya gaya gravitasi Bulan yang berpengaruh terhadap pasang surut adalah 2,2 kali lebih besar dari pada gaya gravitasi Matahari.
Bumi dan Bulan bersama-sama ber-revolusi mengelilingi “bary center”, yaitu titik pusat gravitasi bersama di antara dua benda langit (Gambar 9). Di dalam sistem Bumi – Bulan, bary center terletak sekitar 1718 km dari permukaan Bumi. Gaya gravitasi Bulan menyebabkan air laut di Bumi menggelembung ke arah luar pada sisi Bumi yang menghadap ke arah Bulan. Pada sisi sebaliknya, gaya sentrifugal yang terjadi karena gerak Bumi menyebabkan terjadi gelembungan ke arah luar yang ke-dua. Dengan demikian, Bumi memiliki dua gelembungan atau air pasang yang terlihat pada garis lurus terhadap Bulan, dan air surut yang terjadi pada sisi arah garis yang tegak lurus terhadap Bulan.
Bumi berbentuk oblate spheroid, artinya adalah diameter ekuatorial lebih besar dari pada diameter polar (kutub). Bumi ber-revolusi pada sumbunya sehari sekali terhadap matahari. Lama satu hari matahari (solar day) adalah 24 jam, 0 menit, dan 0 detik.
Posisi bumi tidak tepat di pusat orbit Bulan yang berbentuk ellips. Jarak rata-rata Bulan terhadap Bumi adalah 384.404 km, pada perigee (titik terdekat) jarak Bulan adalah 356.400 km, dan pada apogee (titik terjauh) adalah 406.700 km. Panjang waktu satu hari bulan (lunar day) adalah 24 jam dan 50,47 menit.
Orbit Bumi mengelilingi matahari juga berbentuk ellips. Jarak rata-rata bumi terhadap pusat Matahari adalah 150.000.000 km. Jarah terdepat pada posisi perihelion yang terjadi pada bulan Januari adalah 147.000.000 km, dan jarak terjauh pada aphelion terjadi pada bulan July yaitu 153.000.000 km. Panjang satu orbit yang disebut dengan tropical year adalah 365 hari, 5 jam, 48 menit, dan 46 detik.


Gambar 9. Gaya-gaya yang menghasilkan pasang surut di Bumi. Gambar kiri: dari Weisberg dan Parish (1974), dengan modifikasi; gambar kanan: dari Triatmodjo (1999).

Selanjutnya, adalah fakta bahwa bidang orbit bulan miring terhadap bumi dengan sudut 5o9’ dan sumbu rotasi Bumi miring terhadap bidang orbit Matahari sebesar 23o27’. Dengan demikian deklinasi Bulan terhadap ekuator berkisar dari 28o36’ sampai 18o18’, dan pasang surut bervariasi sesuai dengan deklinasi itu.
4.3.2. Kurva Pasang Surut
Gambaran kondisi pasang surut dapat ditampilkan secara visual dalam bentuk kurva pasang surut. Kurva tersebut menggambarkan ketinggian air laut pada suatu waktu tertentu. Sumbu x menunjukkan waktu, sedang sumbu y menunjukkan ketinggian muka laut (Gambar 10). Tinggi pasang surut adalah jarak vertikal yang diukur dari puncak air tertinggi sampai posisi air terendah. Periode pasang surut adalah waktu yang diperlukan dari posisi muka air tertinggi (atau terrendah) sampai ke muka air tertinggi (atau terrendah) berikutnya. Periode ketika muka laut bergerak naik disebut periode pasang, sedang periode ketika muka laut bergerak turun disebut periode surut.


Gambar 10. Kurva pasang surut. Dari Triatmodjo (1999).



4.3.3. Tipe-tipe Pasang Surut
Tipe pasang surut yang terjadi di bumi tidak sama di semua tempat. Perbesaan tipe pasang surut ini terjadi karena: (1) bentuk dan konfigurasi cekungan yang mempengaruhi gerakan air, (2) kondisi topografi dasar laut lokal, dan (3) pengaruh efek Coriolis.


Gambar 11. Contoh empat tipe pasang surut. Dari Pethick (1992).


Secara umum, ada 4 tipe pasang surut (Gambar 11), yaitu:

1) Pasang surut harian tunggal (diurnal tide). Pada pasang surut tipe ini, perubahan pasang surut harian menghasilkan satu kali pasang dan satu kali surut. Periode pasang surut ini 24 jam 50 menit 47 detik. Faktor yang menyebabkannya adalah rotasi bumi dan deklinasi matahari dan bulan.
2) Pasang surut harian ganda (semidurnal tide). Pada pasang surut tipe ini, dalam satu hari terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dengan tinggi yang hampir sama. Periode pasang surut ini rata-rata 12 jam 24 menit 23,5 detik. Faktor yang menyebabkannya adalah rotasi bumi.
3) Pasang surut campuran dominan harian ganda (mixed tide predominant semidiurnal). Pada tipe ini, dalam satu hari terjadi dua kali pasang surut dan dua kali surut dengan tinggi dan periode berbeda.
4) Pasang surut campuran dominan harian tunggal (mixed tide predominant diurnal). Pada tipe ini, dalam satu hari terjadi satu kali pasang dan satu kali surut, tetapi kadang-kadang terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dengan tinggi dan periode yang sangat berbeda.

Penyebaran tipe-tipe pasang surut yang terdapat di kawasan Kepulauan Indonesia dan sekitarnya dapat dilihat pada Gambar 11a.


Gambar 11a. Distribusi tipe-tipe pasang surut di kawasan Kepulauan Indonesia an sekitarnya. Dikutip dari Triatmodjo (1999).

4.3.4. Variasi Pasang Surut
Variasi pasang surut dapat dibedakan menjadi:
1) Variasi harian (Gambar 12) adalah variasi yang terjadi dalam satu hari matahari. Variasi ini terjadi karena gerak rotasi Bumi dan gerak revolusi Bulan mengelilingi Bumi. Ada perbedaan antara hari matahari dan hari-bulan (lunar day). Lama hari bulan adalah 24 jam 50,47 menit. Jadi, setiap hari pasang yang terjadi di suatu tempat selalu terlambat sekitar 50 menit dari hari sebelumnya.



Gambar 12. Rekaman pasang surut yang disederhanakan. Memperlihatkan variasi harian pasang surut. Dari Pethick (1992).



Gambar 13. Siklus pasang surut dalam satu bulan “lunar month”. Memperlihatkan variasi pasang surut bulanan. Dari Pethick (1992).


2) Variasi bulanan (Gambar 13) yaitu variasi yang tejadi dalam periode satu bulan. Variasi ini terjadi karena revolusi Bulan mengelilingi Bumi. Periode Bulan mengelilingi Bumi adalah 29,5 hari, sehingga pada setiap hari-bulan, pasang surut bergeser. Selain itu, gerak revolusi Bulan terhadap Bumi menyebabkan pada waktu-waktu tertentu posisi Matahari – Bumi – Bulan berada pada satu garis lurus, dan pada waktu-waktu yang lain membentuk sudut siku-siku dengan Bumi sebagai titik sudutnya. Pada susunan yang membentuk garis lurus dengan Bumi berada di tengah, terjadi Bulan Purnama; sedang bila Bulan berada di tengah, terjadi Bulan Mati. Pada saat Purnama di setiap tanggal 15 hari bulan, terjadi pasang purnama (spring tide at full moon), sedang pada saat bulan mati di setiap tanggal 1 hari bulan, terjadi pasang bulan mati atau pasang bulan baru (spring tide at new moon). Pada saat terjadi susunan Matahari – Bumi – Bulan membentuk sudut siku-siku di setiap tanggal 7 dan 21 hari bulan, terjadi pasang yang rendah atau pasang kecil (pasang perbani atau neap tide).


Gambar 14. Siklus pasang surut yang memperlihatkan variasi tahunan. Dari Pethick (1992).

3) Variasi tahunan (Gambar 14) adalah vaiasi yang terjadi dalam periode satu tahun. Variasi ini terjadi karena gerak revolusi Bumi mengelilingi Matahari, sumbu rotasi bumi yang membentuk sudut 23,5o terhadap bidang orbit Bumi, dan karena bentuk orbit Bumi terhadap matahari yang berbentuk ellips. Posisi sumbu rotasi yang menyudut terhadap sumbu bidang orbit itu menyebabkan pasang surut berdeviasi antara 23,5o Lintang Selatan dan 23,5o Lintang Utara. Dalam periode satu tahun, dua kali Matahari berada pada posisi “equinoxe” – posisi Matahari tepat berada di khatulistiwa, yaitu pada tanggal 21 Maret dan 21 September. Pada saat itu terjadi “High spring tide” (pasang tinggi yang tinggi atau equinoctial spring tide). Pada ketika yang lain, dalam periode satu tahun, dua kali Matahari berada pada posisi “soltice” – posisi Matahari posisi tinggi, yaitu satu kali berada di posisi Lintang Utara – tanggal 21 Juni, dan satu kali berada di posisi Lintang Selatan – tanggal 21 Desember. Pada saat-saat itu terjadi “Low spring tide” (pasang tinggi yang rendah atau soltice spring tide) (Gambar 14). Kemudian, lintasan orbit Bumi yang berbentuk ellips membuat pada waktu tertentu Bumi sangat dekat dengan Matahari. Pada saat itu di Bumi akan terjadi pasang tertinggi dan surut terrendah sepanjang tahun.

Kemudian, secara kasar berdasarkan pada variasi tinggi air pasang surut, menurut Davies (1964 vide Komar, 1976) pasang surut dapat dibedakan menjadi tiga tipe, yaitu:
1). Mikrotidal (microtidal), kisaran pasang surut < 2 meter.
2). Mesotidal (mesotidal), kisaran pasang surut 2 - 4 meter.
3). Makrotidal (macrotidal), kisaran pasang surut > 4 meter.

Selanjutnya disebutkan bahwa pasang surut jenis mikrotidal dan mesotidal umumnya dijumpai di pantai-panti terbuka di tepi samudera, dan laut-laut yang terkurung daratan seperti Laut Mediterania, Laut Hitam dan Laut Merah. Pasang surut makrotidal dijumpai secara lokal di teluk-teluk di sepanjang pantai. Penyebaran variasi pasang surut di seluruh dunia disajikan pada Gambar 14a.


Gambar 14a. Penyebaran variasi pasang surut di seluruh dunia menurut Davies (1964). Dikutip dari Komar (1976) dengan modifikasi.

4.4. ARUS
Dalam skala global, berbicara tentang arus berarti berbicara tentang sirkulasi massa air global. Untuk kemudahan, kita dapat membedakan sirkulasi massa air menjadi dua bagian yang saling berkaitan satu sama lain, yaitu: (1) sirkulasi massa air permukaan yang sebagian besar disebabkan oleh sirkulasi atmosferik atau angin, dan (2) sirkulasi laut dalam, yaitu pergerakan massa air yang disebabkan oleh perubahan densitas massa air yang disebabkan oleh perubahan temperatur dan salinitas.
4.4.1. Sirkulasi-Massa Air Permukaan
Air laut dalam gerakan yang konstan melintasi samudera, membentuk gerakan berputar raksasa yang bergerak searah jarum jam di Hemisfer Utara (Northern Hemisphere) dan bergerak berlawanan arah dengan gerak jarum jam di Hemisfer Selatan (Southern Hemisphere). Setiap gerakan berputar, atau “gyre” (gir), dapat dibagi menjadi beberapa aliran kecil dengan karakteristik yang bervariasi (Gambar 15).
Setiap samudera memiliki pola arusnya sendiri dalam bentuk gerakan massa air yang melintasi zona iklim yang satu ke zona iklim lain. Meskipun demikian, setiap samudera memiliki pola umum sirkulasi permukaan yang sama satu sama lainnya, karena faktor-faktor yang mencetuskan arus dan memodifikasinya sama di seluruh dunia.
4.4.2. Faktor-faktor Yang Berpengaruh
Angin yang bertiup melintasi permukaan laut menciptakan friksi yang menyebabkan air bergerak. Gerakan air tersebut adalah fungsi dari kecepatan angin dan energ yang ditransfer ke permukaan laut. Kecepatan arus permukan yang ditimbulkan oleh tiupan angin hanya 3% dari kecepatan angin (Ingmanson dan Wallace, 1985).
Arus-arus permukaan dapat dipandang sebagai fungsi dari kecepatan angin dan pola-pola angin. Karena angin bertiup dengan pola tertentu di sekeliling Bumi (Gambar 15a,dan 15b), maka kita dapat mengharapkan bahwa arus-arus permukaan juga akan menikuti pola yang sama. Namun ternyata tidak demikian, karena ada benua-benua, pulau-pulau di tengah samudera, dan pematang-pematang laut yang membuatnya terdistorsi. Selain itu faktor fisik tersebut, banyak faktor yang mempengaruhi pola pergerakan arus permukaan, tetapi di sini hanya akan diuraikan dua faktor yang utama, yaitu efek Coriolis dan Transportasi Ekman.


Gambar 15. Pola sirkulasi massa air global. Dari Weisberg dan Parish (1974).



Gambar 15a. Pola angin global menurut Sturman dan Tapper (1996) untuk kawasan 40S – 0 – 40U. Dikutip dari Tapper (2002) dengan modifikasi. ITCZ = intertropical convergence zone.




Gambar 15b. Pola sirkulasi atmosfer global. Dikutip dari Berner dan Berner (1987).

4.4.2.1. Efek Coriolis
Fenomena ini muncul sebagai konsekuiensi dari gerak rotasi Bumi. Gejala ini diungkapkan pertama kali oleh Gaspard G.. Coriolis (1792-1843), seorang ahli matematika dan fisika bangsa Perancis, di abad ke-19. Efek ini adalah gerak semu dari suatu objek yang bergerak melintasi permukaan Bumi, sementara itu Bumi berrotasi di bawahnya. Efek ini mempengaruhi semua objek yang bergerak melintasi permukaan Bumi, seperti arus laut, angin, dan peluru kendali. Gambaran dari efek ini adalah seperti pada Gambar 16.


Gambar 16. Efek Coriolis di berbagai tempat di Bumi. Dari Weisberg dan Parish (1974).

Bila seseorang berdiri pada satu titik di Hemisfer Utara dan menghadap ke arah gerakan arus, maka akan orang tersebut akan melihat bahwa arus berbelok ke arah kanan. Sebaliknya, bila hal yang sama dilakukan di Hemisfer Selatan, maka arus akan terlihat berbelok ke arah kiri. Pengaruh dari efek Coriolis tersebut menyebabkan terjadinya gerakan arus berputar searah gerak jarum jam di Hemisfer Utara, dan gerak berputar berlawanan arah gerak jarum jam di Hemisfer Selatan.
4.4.2.2. Transportasi Ekman
Angin adalah tenaga penggerak pertama dan utama yang menggerakkan arus-arus permukaan. Meskipun demikian, sesungguhnya garakan arus tidak tepat searah dengan arah tiupan angin, melainkan membentuk sudut ke arah kanan. Demikian pula, arus di permukaan samudera tidak memberikan efek yang sama ke seluruhan kedalaman perairan, tetapi terbatas beberapa ratus meter. Gerak menyimpangnya arah arus dari arah angin yang menggerakkannya itu adalah karena pengaruh dari efek Coriolis terhadap gerakan arus. Hal ini pertama kali dijelaskan oleh V.W. Ekman (1874-1954) seorang ahli oseanografi bangsa Norwegia, pada tahun 1905. Sejarahnya, Nansen secara kualitatif mengamati Gunung Es yang hanyut ke arah kanan dari angin angn yang bertiup di Hemisfer Utara. Dia kemudian mengkomunikasikan hal itu kepada Ekman yang kemudian mengembangkan teori kuantitatif upper-layer wind-driven circulation (sirkulasi lapisan atas yang digerakkan oleh angin).
Bayangkan bahwa P adalah tubuh air (Gambar 17,a). Ketika angin bertiup di atasnya, terjadi gaya friksi Ft yang searah dengan arah tiupan angin dan kemudian menggerakkan massa air itu serah dengan arah angin. Setelah aris bergerak, segera gaya Coriolis Fc bekerja ke arah kanan dengan sudut tegak lurus dengan arah tiupan angin, dan menyebabkan aliran Vo berbelok ke kanan (di Hemisfer utara, dan ke kiri di Hemisfer selatan). Pada saat yang sama, massa air yang bergerak itu menunculkan gaya gesekan dengan massa air di sebelah bawahnya. Secara sederhanya dapat dikatakan bahwa Vo berarah 45o terhadap arah angin. Dengan logika yang sama, arah gerakan arus di bawahnya akan terus menyimpang sebesar 45o dari arah arus di atasnya. Sampai kedalaman tertentu, arah arus akan berlawanan arah dengan Vo. Apabila arah-arah arus itu digambarkan pada satu bidang, maka akan tergambar Spiral Ekman (Gambar 17,d). Kedalaman DE dimana air bergerak berlawanan arah dengan air di permukaan Vo, disebut sebagai depth of frictional influence (kedalaman pengaruh friksi). Kedalaman ini diambil sebagai ukuran kedalaman pengaruh angin permukaan terhadap gerakan air laut. Lapisan ini disebut sebagai Lapisan Ekman (Pickard dan Emery, 1995). Arah transportasi massa air yang menyudut 90o terhadap arah angin permukaan disebut Transportasi Ekman (Ingmanson dan Wallace, 1985).


Gambar 17. Spiral Ekman. Dari Pickard dan Emery (1995).



4.4.3. Sirkulasi Laut-Dalam
Gerakan air-dalam terjadi karena perbedaan densitas air laut. Perbedaan densitas air laut terutama karena variasi salinitas dan temperatur air laut. Sirkulasi massa air laut yang terjadi karena perbedaan densitas itu disebut “Thermohaline circulation” (sirkulasi termohalin). Kata “thermohaline” berasal dari kata “thermo” yang berarti “panas”, dan “haline” yang berarti “garam atau halite” Jadi sirkulasi termohalin adalah gerakan massa air yang terjadi karena perubahan densitas air laut yang disebabkan oleh perubahan temperatur dan salinitas. Sirkulasi termohalin di samudera terjadi karena peningkatan densitas di lapisan permukaan, baik karena pendinginan langsung maupun karena pencairan es yang melepaskan garam-garam ke laut. Sirkulasi ini adalah proses konveksi dimana air dingin dengan densitas tinggi terbentuk di daerah lintang tinggi turun dan secara perlahan mengalir ke arah ekuator. Sirkulasi termohalin berjalan sangat lambat, karena itu tidak dapat dilihat secara langsung. Sebagian besar informasi tentang sirkulasi ini diperoleh dari pengukuran temperatur, salinitas, densitas di bawah laut.
Siskulasi thermohalin terjadi di Samudera Atlantik, Pasifik dan Hindia. Secara keseluruhan, sel-sel sirkulasi thermohalin bergabung membawa massa air berkeliling dunia, membangun suatu sistem transportasi massa air yang kemudian disebut “Global Ocean Conveyor System” (Gambar 17a). Dalam sistem sirkulasi seperti itulah massa air laut global terjadi.
Sistem sirkulasi massa air global yang tampak di dalam Gambar 17a adalah sistem sirkulasi yang terjadi di masa sekarang. Sebagaimana kita ketahui bahwa, dalam sejarah Bumi konfigurasi benua-benua selalau berubah, oleh karena itu, sistem sirkulasi massa air global di masa lalu tentu berbeda dengan yang ada pada masa sekarang.



Gambar 17a. Global Ocean Conveyor System. Dikutip dari Skinner dan Porter (2000) dengan modifikasi.



4.4.4. Arus-arus dengan Sebab Khusus
Selain dari arus-arus yang berskala global, ada arus-arus lain yang bersifat lokal yang penting yang terjadi karena sebab-sebab khusus, seperti arus sepanjang pantai, arus rip, arus turbid, arus pasang surut, upwelling dan downwelling.
4.4.4.1. Arus sepanjang pantai (longshore current)
Arus sepanjang pantai adalah arus yang bergerak sejajar dengan garis pantai. Arus ini timbul karena dua sebab: (1) gelombang yang mendekati pantai dengan arah tegak lurus terhadap garis pantai, dan (2) gelombang datang mendekati pantai dengan sudut miring. Arus sepanjang pantai ini berperanan dalam transportasi sedimen menyusur pantai (Gambar 18).
4.4.4.2. Arus Rip (Rip current)
Arus rip adalah arus yang bergerak ke arah laut dengan arah yang tegak lurus atau miring terhadap garis pantai. Arus ini adalah arus balik yang timbul setelah gelombang mencapai garis pantai, dan kehadirannya umumnya berasosiasi dengan arus sepanjang pantai dalam suatu sistem sirkulasi sel (cell circulation system). Arus ini berperanan dalam transportasi sedimen dari pantai ke arah laut. (Gambar 18).
4.4.4.3. Arus Turbid (Turbidity current)
Arus turbid adalah arus dasar laut yang terjadi karena perbedaan densitas air laut. Perbedaan densitas itu terjadi karena kandungan muatan sedimen. Arus ini telah berhasil dihasilkan dalam percobaan di laboratorium. Di alam arus ini dapat terjadi di danau atau waduk. Di samudera, arus turbid dicetuskan oleh gempa bumi, longsoran bawah laut, dan badai. Di daerah muara sungai, arus turbid dapat terjadi pada waktu banjir.


Gambar 18. Pola pembentukan arus sepanjang pantai dan arus rip. Dari Komar (1976).

4.4.4.4. Arus pasang surut
Arus pasang surut adalah arus yang terjadi berkaitan dengan peristiwa pasang surut. Arus ini terjadi pada saat periode pasang dan periode surut. Arus ini terlihat jelas di daerah estuari atau muara sungai. Arus ini mempengaruhi pola pengendapan muatan sedimen dan pola penyebaran alur-alur sungai di kawasan delta sungai.
4.4.4.5. Upwelling dan Downwelling
Telah dibicarakan di depan bahwa tiupan angin menyebabkan gerakan air laut horizontal. Selain itu, tiupan angin dapat juga menimb ulkan gerakan vertikan yang dikenal sebagai upwelling – bila air bergerak naik, dan downwelling – bila air bergerak turun. Selanjutnya, juga telah kita bicarakan tentang Efek Coriolis dan Transportasi Ekman, dua fenomena gerakan massa air karena tiupan angin.
Sebagai contoh, bila angin bertiup ke arah selatan dengan sejajar pantai barat Amerika maka, bila di belahan Bumi utara akan terjadi trasportasi massa air kearah laut, yang kemudian diikuti oleh naiknya massa air dari bagian laut yang lebih dalam ke permukaan (Gambar 20). Peristiwa naiknya massa air itulah yang disebut sebagai upwelling. Upwelling menyebabkan massa air laut dalam yang dingin dan kaya akan nutrient dan oksigen terlarut naik ke permukaan, sehingga menyebabkan kawasan tersebut menjadi sangat tinggi produktifitasnya, sangat kaya secara biologi atau merupakan daerah yang subur bagi perikanan. Sekitar 90% aktifitas perikanan tangkap dunia berada di daerah upwelling (Ingmanson dan Wallace, 1985). Sebaliknya, di pantai barat Peru yang terletak di belahan Bumi selatan, upwelling terjadi bila angin bertiup ke arah utara. Kemudian, berdasarkan tempat kejadiannya, yaitu kawaan pesisir, maka dua contoh upwelling yang disebutkan di atas dikenal sebagai Coastal upwelling (upwelling daerah pesisir).
Selain di daerah pesisir, upwelling dapat juga terjadi di sepanjang ekuator, sehingga disebut sebagai Equatorial upwelling (Gambar 21). Arus ini terjadi di Samudera Pasifik dan Atlantik. Angin yang bergerak di sepanjang ekuator dari timur ke barat, karena pengaruh Spiral Ekman menyebabkan massa air membelok ke utara – di belahan Bumi utara, dan ke selatan – di belahan Bumi selatan. Selanjutnya, massa air di ekuator yang terdorong ke samping itu menyebabkan naiknya masa air yang lebih dingin dari kedalaman yang lebih dalam ke permukaan. Kemudian, karena massa air yang lebih hangat memiliki densitas yang lebih rendah, maka bila angin bertiup kencang, permukaan air di bagian barat lebih tinggi daripada di bagian timur. Efek selanjutnya adalah, lapisan termoklin yang merupakan batas antara air hanyat dan yang lebih dingin akan miring. Di bagian timur lebih tinggi daripada di bagian barat. Di Samudera Pasifik bagian timur, termoklin hampir mencapai permukaan.


Gambar 20. Upwelling yang terjadi di Hemisfer utara, di daerah pantai barat Benua Amerika atau bagian timur Samudera Pasifik. Dikutip dari Ingmanson dan Wallace (1985).


Gambar 21. Equatorial upwelling dan arus-arus yang berasosiasi dengannya. Sumber: [http://www.atmos.washington.edu/gcg/RTN ... RTN12.html]. Akses: 9 Npember 2006.

JIKA ADA YANG DITANYA,, LANGSUNG AJA KOMEN DI BAWAH YAA... SEMANGAT
Post Reply